Jumat, 25 Januari 2013

Ketika Teman menjadi Pengkhianat! (Part 1)




Bruk…..bruk…bruk….. “Yaampun cerry, pelan-pelan dong kalau turun tangga, nanti kalau kamu jatuh kan repot  Perintah Bunda padaku.
Woles aja bundaku sayang” Jawabku santai
“Hhhhh dasar kamu ini, yasudah sarapan dulu sana.” Perintah Bunda lagi.
“Emmmmmm, Cerry nggak sarapan dulu deh, bun. Cerry buru-buru, udah telat nih.” Kataku sambil melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 06:30.
“30 menit lagi bun, Cerry berangkat yaaa, udah gak sempet sarapan nih. By the way, Cerry naik apa bun berangkatnya?” Tanyaku lagi sambil melirik sekitar rumah yang sudah sepi. Loh? Kemana Papah? Kemana Kak Nadine?

“Cer, kamu berangkat sendiri ya hari ini. Papah sudah berangkat dari jam setengah enam tadi, mau ada meeting katanya. Kak Nadine juga tadi berangkat sekitar jam enam, katanya mau ada seminar dikampusnya, jadi dia harus datang pagi. Jadi, kamu berangkat sendiri bisa kan, sayang?” Jelas Bunda.
Oh Tuhan, apa-apaan ini? Kenapa rasanya sial banget. Kenapa bunda nggak bangunin aku daritadi biar bisa berangkat bareng Papah atau nggak Kak Nadine. Mungkin ini hanya kebetulan atau…… ah entahlah, yang jelas sekarang aku harus segera on the way!!!!!!!!!!!!!!
Yaampun ini first time banget aku berangkat sendiri. Tapi, nggak masalah, toh sekolahku dekat kok dari rumahku, cukup naik angkot sekali langsung sampai.
“Cerry……..”
Seperti ada yang memanggil namaku. Ada yang kenal denganku ya didaerah sini? Padahal aku kan jarang sekali keluar kompleks. Wah aku terkenal hihihiihi.
“Cerrrrr, Cerryyyyyyy………..” Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepanku saat aku sedang menunggu angkot digang kompleks perumahan rumahku. Oh ternyata suara dari dalam mobil itu yang memanggil namaku.
“Tiffa?” Ternyata dia teman sekelasku, teman dekatku pula. Namanya Tiffany, biasa dipanggil Tiffa. Dia cantik sekali, hidungnya kecil mancung bagaikan Tiffany SNSD. Gigi sampingnya gingsul seperi Nabilah JKT48, rambutnya lurus panjang dengan gaya poni yang kesamping. Suaranya yang imut dan lucu itu semakin membuat dia terlihat sempurna. Dia juga baik Hehehe.
“Hai Cer. Lo ngapain disitu?” Tanyanya dari balik pintu Chevrolet itu.
“Hmmmmm ini Fa, lagi nungguin angkot lewat, tapi kok nggak ada yang lewat ya. Udah hampir telat nih hehehe” Jawabku.
“Loh? Tumben lo naik angkot? Biasanya kan dianterin.” Tanyanya dengan ekspresi bingung..
“Soalnya……………..”
“Sssst, nanti aja ceritanya dimobil, udah ayo berangkat bareng gue aja, lo gak mungkin sempet naik angkot, nggak ada angkot yang lewat, Cer. Tukang angkot lagi pada demo diperapatan, hehehe.” Potongnya, lalu membukakan pintu mobilnya itu untukku.
“Jadi?” Tanyanya memulai percakapan didalam mobil.
“Hah?” Tanyaku nggak ngerti.
“Yaaa, jadi kenapa lo tadi mau naik angkot sendirian gitu? Biasanya juga lo dianter pake mobil mobil mewah milik keluarga lo. Gue masih nggak ngerti. Jelasin dong.”  Pertanyaan yang amat sangat tidak begitu penting untuk dijawab.
Gue udah miskin.” Jawabku singkat dan bercanda.
What??” Tanyanya kaget
“Apansih Fa, biasa aja dong. Nafas lo bau. Iyuh.” Jawabku bercanda.
“Heh! Sialan lo.” Jawabnya sambil sok ngambek.
Hahaha bercanda, Fa.” Jawabku
“Huh, emang dasar resek ya lo. Yaudah jawab pertanyaan gue yang tadi!” Tagih dia.
“Nanti aja ya dikelas, udah sampai tuh.” Jawabku sambil menunjuk kepada Tiffa bahwa kita sudah sampai didepan gerbang. Daaaaaaaaaaaaan, untung saja gerbangnya belum ditutup. Aku melihat jam ditanganku. “Masih jam 06:50.” Kataku dalam hati.
“Yaudah deh, ayuk turun.” Ajak Tiffa padaku.

Sesampainya dikelas, aku menceritakan semuanya pada Tiffa. Menceritakan hal yang menurutku ‘nggak penting’ itu, sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi.


“Selamat pagi anak-anak” Sapa Bu Dera kepada kami, murid-muridnya.


“Pagiiiiiiiiii buuuuuuuuuuuuuu” Jawab kami serentak

“Kita akan memulai pelajaran kita hari ini. Keluarkan buku Matematika kalian, ibu akan memberikan sedikit penjelasan tentang Barisan bilangan dan Deret.”

“Barisan bilangan diperoleh dengan cara mengurutkan bilangan-bilangan dengan……….” Jelas Bu Dera dengan gaya bicaranya yang terdengar tegas tapi lembut.
“Jika suatu barisan bilangan dinyatakan dalam bentuk……………………” Lanjut Bu Dera lagi.



“Baik anak-anak  ada yang ingin ditanyakan pada materi kita kali ini?” Tanya Bu Dera sambil membereskan buku-bukunya karena jam pelajarannya telah habis.

“Tidak ada suara, berarti tidak ada yang ingin bertanya. Berarti kalian sudah mengerti kan?” Tanya Bu Dera lagi.

Semua mengangguk. Entahlah mengangguk karena memang mengerti atau apa aku tidak tau. Yang pasti, hari ini mengangguk mengerti nanti saat ulangan semua menggeleng. Hehehe.

“Baik anak anak, kalau begitu sekian pelajaran dari saya. Wassalam…………” Kata Bu Dera sambil bergegas meninggalkan kelas.

“Cerr, jajan yuk” Ajak Tiffa padaku

“Gak laper” Jawabku singkat sambil mengambil BlackBerry ku disaku bajuku.

“Yahelah, Cer, ayolah ke kantin, gue laper nihhhhh.” Ajak Tiffa lagi sambil memegang perutnya yang tidak buncit itu.

“Males.”Jawabku sambil mengutak-ngatik keypad BlackBerry ku.

“Ihh apaansih lo, udah ayo ah temenin gue, please. Gue laper nih, lo mau nanti gue mati kelaparan gara-gara lo nggak mau nemenin gue beli makanan.” Pinta Tiffa sambil menarik lengan ku.

“Yaampun dasar Ms. Lebay. Yaudah ayo gue temenin.” Jawabku dengan nada terpaksa.

“Nah gitu dong, itu baru namanya Cerry Aszriani temen gue yang paaaling cantik dan super super the best.” Puji Tiffa sambil mengacungkan dua jempolnya dan berjalan kearah kantin.

“Asli, lebay banget lo.” Jawabku yang juga berjalan disamping Tiffa.

“Hahaha, seneng aja kan lo gue puji.” Kata Tiffa

“Yeeee ap…………..”

Bruk!!!

“Aawww.” Jeritku kesakitan.

Tiba-tiba bola basket melayang tepat dipipiku dan, dan, daaaaaaaaan semuanya menjadi gelap.

“Cer, lo nggak apa-apa?” Tanya Tiffa khawatir.

Hah? Aku lagi dimana nih? Kok aku tiba-tiba terbaring disini? Apa yang barusan terjadi? Kenapa aku ada diruangan yang bau obat-obatan ini?

Lo ada di UKS, cer. Tadi lo pingsan gara-gara kena bola basket. Ada yang nggak sengaja ngelempar lo pake bola basket.” Jelas Tiffa yang masih khawatir karna melihatku diam saja.

“Tapi lo nggak apa-apa kan Cer?Lo nggak amnesia kan Cer?” Tanyanya berlebihan.

Enggak, lebayyyyyyyyyyyyyyyyyyyy.” Jawabku sambil beranjak duduk.

“Eh, by the way tadi yang ngelempar gue pake bola basket siapa, Fa? Orangnya mana? Kok nggak bertanggung jawab banget sih. Pipi gue masih sakit nih.” Tanya ku sambil mengelus-elus pipiku.

“Tadi sih ada, malahan dia yang bantuin gue bawa lo ke UKS.” Kata Tiffa

“Terus, orangnya man…………”

“Eh sorry ya tadi gue habis beli minuman, nih buat lo.” Tiba-tiba ada seseorang laki-laki masuk kedalam UKS sambil menyodorkan  aqua padaku. Siapa dia?Aku nggak kenal. Apa dia orang yang telah membuat tragedi “Lemparan Bola Basket” tadi?

“Hah?” Kataku nggak ngerti.



To be continue…………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar