Bruk…..bruk…bruk…..
“Yaampun cerry, pelan-pelan dong
kalau turun tangga, nanti kalau kamu jatuh kan repot” Perintah Bunda
padaku.
“Woles
aja bundaku sayang” Jawabku santai
“Hhhhh dasar kamu ini, yasudah sarapan dulu sana.”
Perintah Bunda lagi.
“Emmmmmm,
Cerry nggak sarapan dulu deh, bun. Cerry buru-buru, udah telat nih.” Kataku
sambil melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 06:30.
“30 menit lagi bun, Cerry berangkat
yaaa, udah gak sempet sarapan nih. By the way, Cerry naik apa bun
berangkatnya?” Tanyaku lagi sambil melirik sekitar rumah yang sudah sepi. Loh?
Kemana Papah? Kemana Kak Nadine?
“Cer,
kamu berangkat sendiri ya hari ini. Papah sudah berangkat dari jam setengah
enam tadi, mau ada meeting katanya.
Kak Nadine juga tadi berangkat sekitar jam enam, katanya mau ada seminar
dikampusnya, jadi dia harus datang pagi. Jadi, kamu berangkat sendiri bisa kan,
sayang?” Jelas Bunda.
Oh Tuhan, apa-apaan ini? Kenapa rasanya
sial banget. Kenapa bunda nggak bangunin aku daritadi biar bisa berangkat
bareng Papah atau nggak Kak Nadine. Mungkin ini hanya kebetulan atau…… ah
entahlah, yang jelas sekarang aku harus segera on the way!!!!!!!!!!!!!!
Yaampun ini first
time banget aku berangkat sendiri. Tapi, nggak masalah, toh sekolahku dekat kok dari rumahku, cukup naik angkot
sekali langsung sampai.
“Cerry……..”
Seperti ada yang memanggil namaku. Ada yang kenal
denganku ya didaerah sini? Padahal aku kan jarang sekali keluar kompleks. Wah aku terkenal hihihiihi.
“Cerrrrr, Cerryyyyyyy………..” Tiba-tiba sebuah mobil
berhenti didepanku saat aku sedang menunggu angkot digang kompleks perumahan rumahku. Oh ternyata suara dari dalam mobil itu
yang memanggil namaku.
“Tiffa?” Ternyata dia teman sekelasku, teman dekatku
pula. Namanya Tiffany, biasa dipanggil
Tiffa. Dia cantik sekali, hidungnya kecil mancung bagaikan Tiffany SNSD. Gigi
sampingnya gingsul seperi Nabilah JKT48, rambutnya lurus panjang dengan gaya
poni yang kesamping. Suaranya yang imut dan lucu itu semakin membuat dia
terlihat sempurna. Dia juga baik Hehehe.
“Hai Cer. Lo ngapain disitu?” Tanyanya dari balik
pintu Chevrolet itu.
“Hmmmmm ini Fa, lagi nungguin angkot lewat, tapi kok nggak ada yang lewat ya. Udah hampir telat
nih hehehe” Jawabku.
“Loh? Tumben lo naik angkot? Biasanya kan dianterin.” Tanyanya dengan ekspresi bingung..
“Soalnya……………..”
“Sssst, nanti aja ceritanya dimobil, udah ayo
berangkat bareng gue aja, lo gak mungkin sempet naik angkot, nggak ada angkot yang lewat, Cer. Tukang angkot
lagi pada demo diperapatan, hehehe.”
Potongnya, lalu membukakan pintu mobilnya itu untukku.
“Jadi?” Tanyanya memulai percakapan didalam mobil.
“Hah?” Tanyaku nggak
ngerti.
“Yaaa, jadi kenapa lo tadi mau naik angkot sendirian gitu? Biasanya juga lo dianter pake mobil mobil mewah milik keluarga lo. Gue masih nggak ngerti. Jelasin dong.” Pertanyaan yang amat sangat tidak begitu
penting untuk dijawab.
“Gue udah
miskin.” Jawabku singkat dan bercanda.
“What??”
Tanyanya kaget
“Apansih Fa, biasa aja dong. Nafas lo bau.
Iyuh.” Jawabku bercanda.
“Heh! Sialan lo.”
Jawabnya sambil sok ngambek.
“Hahaha bercanda,
Fa.” Jawabku
“Huh, emang dasar resek ya lo. Yaudah jawab pertanyaan gue yang tadi!” Tagih dia.
“Nanti aja ya dikelas, udah sampai tuh.” Jawabku
sambil menunjuk kepada Tiffa bahwa kita sudah sampai didepan gerbang.
Daaaaaaaaaaaaan, untung saja gerbangnya belum ditutup. Aku melihat jam
ditanganku. “Masih jam 06:50.” Kataku dalam hati.
“Yaudah deh, ayuk turun.” Ajak Tiffa padaku.
Sesampainya dikelas,
aku menceritakan semuanya pada Tiffa. Menceritakan hal yang menurutku ‘nggak
penting’ itu, sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi.
“Selamat pagi anak-anak” Sapa Bu Dera
kepada kami, murid-muridnya.
“Pagiiiiiiiiii buuuuuuuuuuuuuu” Jawab
kami serentak
“Kita akan memulai pelajaran kita hari
ini. Keluarkan buku Matematika kalian, ibu akan memberikan sedikit penjelasan
tentang Barisan bilangan dan Deret.”
“Barisan bilangan diperoleh dengan cara
mengurutkan bilangan-bilangan dengan……….” Jelas Bu Dera dengan gaya bicaranya
yang terdengar tegas tapi lembut.
“Jika suatu barisan bilangan dinyatakan
dalam bentuk……………………” Lanjut Bu Dera lagi.
“Baik anak-anak ada yang ingin ditanyakan pada materi kita
kali ini?” Tanya Bu Dera sambil membereskan buku-bukunya karena jam
pelajarannya telah habis.
“Tidak ada suara, berarti tidak ada yang
ingin bertanya. Berarti kalian sudah mengerti kan?” Tanya Bu Dera lagi.
Semua mengangguk. Entahlah mengangguk karena memang mengerti atau apa aku tidak tau. Yang
pasti, hari ini mengangguk mengerti nanti saat ulangan semua menggeleng. Hehehe.
“Baik anak anak, kalau begitu sekian
pelajaran dari saya. Wassalam…………” Kata Bu Dera sambil bergegas meninggalkan
kelas.
“Cerr, jajan yuk” Ajak Tiffa padaku
“Gak laper” Jawabku singkat sambil
mengambil BlackBerry ku disaku bajuku.
“Yahelah, Cer, ayolah ke kantin, gue
laper nihhhhh.” Ajak Tiffa lagi sambil memegang perutnya yang tidak buncit itu.
“Males.”Jawabku sambil mengutak-ngatik keypad BlackBerry ku.
“Ihh apaansih lo, udah ayo ah temenin gue,
please. Gue laper nih, lo mau nanti gue mati kelaparan
gara-gara lo nggak mau nemenin gue beli makanan.” Pinta Tiffa sambil
menarik lengan ku.
“Yaampun dasar Ms. Lebay. Yaudah ayo gue
temenin.” Jawabku dengan nada terpaksa.
“Nah gitu dong, itu baru namanya Cerry
Aszriani temen gue yang paaaling
cantik dan super super the best.” Puji
Tiffa sambil mengacungkan dua jempolnya dan berjalan kearah kantin.
“Asli, lebay banget lo.” Jawabku yang juga berjalan disamping Tiffa.
“Hahaha, seneng aja kan lo gue puji.” Kata Tiffa
“Yeeee ap…………..”
Bruk!!!
“Aawww.” Jeritku kesakitan.
Tiba-tiba bola basket melayang tepat
dipipiku dan, dan, daaaaaaaaan semuanya menjadi gelap.
“Cer, lo nggak apa-apa?” Tanya
Tiffa khawatir.
Hah? Aku lagi dimana nih? Kok aku
tiba-tiba terbaring disini? Apa yang barusan terjadi? Kenapa aku ada diruangan
yang bau obat-obatan ini?
“Lo
ada di UKS, cer. Tadi lo pingsan
gara-gara kena bola basket. Ada yang nggak
sengaja ngelempar lo pake bola
basket.” Jelas Tiffa yang masih khawatir karna melihatku diam saja.
“Tapi lo nggak apa-apa kan Cer?Lo nggak
amnesia kan Cer?” Tanyanya berlebihan.
“Enggak,
lebayyyyyyyyyyyyyyyyyyyy.” Jawabku sambil beranjak duduk.
“Eh, by
the way tadi yang ngelempar gue
pake bola basket siapa, Fa? Orangnya mana? Kok nggak bertanggung jawab banget sih. Pipi gue masih sakit nih.” Tanya ku sambil mengelus-elus pipiku.
“Tadi sih ada, malahan dia yang bantuin gue
bawa lo ke UKS.” Kata Tiffa
“Terus, orangnya man…………”
“Eh sorry
ya tadi gue habis beli minuman, nih
buat lo.” Tiba-tiba ada seseorang
laki-laki masuk kedalam UKS sambil menyodorkan
aqua
padaku. Siapa dia?Aku nggak kenal.
Apa dia orang yang telah membuat tragedi
“Lemparan Bola Basket” tadi?
“Hah?” Kataku nggak ngerti.
To
be continue…………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar